Memperbesar Investasi di Sektor Industri Manufaktur

Investasi di sektor industri manufaktur ini kira-kira telah mencapai angka 43 persen dari investasi yang telah dilakukan sepanjang tahun 2015. Proyeksinya diharapakan berdasarkan komposisi realisasi kegiatan investasi sepanjang Januari-September 2015 adalah sektor manufaktur diharapkan bisa mencapai Rp 172 trilliun atau jika dikonversikan persen mencapai 43 persen dari semua total investasi. Kepala BKPM yaitu Franky Sibarani telah mengatakan bahwa realisasi manufaktur periode ini lebih besar dibandingkan dengan sektor primer. Terkait dengan kegiatan ekstraktif diharapkan dapat mengembangkan perusahaan industry manufaktur di Indonesia menjadi lebih besar dan lebih baik lagi.

Sektor primer telah menyumbangkan bahan mentah dengan nilai sebesar Rp. 72 trilliun dan dari sektor tersier sendiri telah memberikan cakupan di bidang usaha jasa. Konstruksi dan infrastruktur yang telah dilakukan adalah sebesar Rp 155,9 trilliun atau 39 persen. Sektor manufaktur ini menjadi sektor paling besar di Indonesai dan itu setidaknya yang Ia katakana selama siding pers dilakukan dan diterima hasilnya oleh investor daily. Kepala BKPM ini mengatakan akan terus memberikan dorongan positif kepada sektor industry manufaktur agar dapat lebih berkembang dan dapat memberikan influence kepada roda ekonomi di Indonesia.

Paradigma yang berjalan saat ini masih jauh lebih besar dan lebih mengarah kepada gaya konsumtif tanpa mengimbangi dengan produktifnya. Jika dapat dirubah kepada paradigma produktif tentu saja akan sulit sekali jika nanti seseorang berharap untuk menjadi konsumtif sementara secara produktif bisa mengangkat roda ekonomi masyarakat saat ini. BKPM akan terus mendorong untuk bisa menempatkan diri di sektor manufaktur dan di sub sektor orientasi ekspor. Ini semua guna mendorong keproduktivitasan produksi di Indonesia agar semua karya hasil produknya dapat di ekspor ke luar negeri dan bukan malah mengirimkan barang mentah keluar negeri sementara kita membeli lagi hasil olahannya yang pasti lebih mahal dan akan selalu menyudutkan Negara kita menjad Negara yang konsumtif tidak mau mengolah sendiri atau lebih mengarah kepada ingin enaknya saja yang penting jadi.

Leave a Reply